Tentang Sebuah Proposal Revisi Yang Aku Ajukan Kepada Langit Saat Menyadari Bahwa Doa Hanyalah Kosmetik Jiwa Yang Mencari Pengakuan
|
Oleh: Dr. Muhammad Ali Ridho Assegaf
Ali Ridho
"Tuhan, izinkan aku menarik kembali berkas proposal doa yang pernah kupanjatkan, sebab aku khawatir isinya hanyalah daftar keinginan palsu yang disusun oleh ego yang ketakutan, dan jika diperiksa, jangan-jangan yang tersisa hanyalah Amin yang kesepian."
Pagi ini aku duduk menghadapi secangkir kopi yang hitam dan diam, membaca ulang salinan permohonan yang pernah kukirim ke pintu langit. Aku malu pada huruf-huruf yang kutulis sendiri. Ternyata selama ini aku tidak sedang berdoa. Aku sedang berdagang.
Aku menyusun kalimat dengan struktur bahasa yang indah hanya untuk menutupi kekosongan di dada. Aku merias kecemasan dengan topeng kesalehan, berharap Engkau terkesan dengan tata bahasa hamba-Mu ini. Proposal hidupku penuh dengan analisis untung rugi, penuh dengan pencitraan, dan sarat akan dopamin spiritual yang mencari validasi. Aku meminta surga, tapi yang kumaksud adalah kenyamanan. Aku meminta ampunan, tapi yang kukejar adalah citra diri yang bersih.
Jika Engkau bertindak sebagai Auditor Agung yang memeriksa keaslian dokumen ini di bawah cahaya matahari yang jujur, maka habislah aku. Naskah ini akan penuh dengan tinta merah. Semua paragraf pembelaan diri akan Engkau coret. Semua narasi heroik tentang siapa aku akan runtuh menjadi debu.
Mungkin, setelah audit sunyi itu selesai, hanya ada satu kata kecil yang selamat di pojok halaman. Satu kata yang gemetar, telanjang, dan tidak membawa apa-apa selain dirinya sendiri: Amin.
Biarkanlah si Amin ini di sana. Anggaplah dia seperti siswa yang nilainya paling rendah di rapor kehidupan, namun ia satu-satunya yang tidak pernah menyontek. Ia jujur apa adanya. Ia masih bisa dibina. Ia masih bisa tumbuh menjadi pohon yang rindang, asalkan ia tidak dikeluarkan dari kelas semesta-Mu dan dibiarkan duduk sebangku dengan pembimbing setianya yang bernama Iman.
Maka, sebelum tinta-Mu mengering di atas kertas nasibku, biarkan aku berbisik sekali lagi:
"Tuhan, izinkan aku menarik kembali berkas proposal doa yang pernah kupanjatkan, sebab aku khawatir isinya hanyalah daftar keinginan palsu yang disusun oleh ego yang ketakutan, dan jika diperiksa, jangan-jangan yang tersisa hanyalah Amin yang kesepian."