Di Antara Gema Shalawat dan Harap yang Gemetar
Muhammad Ali Ridho
Dari yang mengaku sebagai pengikut Mu, izinkan bibir ini lirih memanggil Makhluk ter Agung :
Ya Rasulullah...
Ini hari Jumat. Hari di mana langit seolah dipenuhi gema nama-Mu. Hari di mana ribuan, bahkan jutaan lisan di seluruh penjuru bumi basah oleh shalawat, berlomba-lomba melarung salam rindu kepada-Mu, wahai Kekasih Allah, wahai pemegang panji kasih sayang bagi semesta alam.
Lisan kami berseru lirih:
“Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.”
Namun, di balik seruan suci itu, ada hati yang bergetar menahan malu.
Kami mengaku rindu. Sungguh, hati ini mendamba untuk menatap wajah-Mu yang menjadi cermin keindahan Ilahi. Kami diajarkan bahwa mencintai-Mu adalah kewajiban yang harus melampaui cinta kami kepada ayah, ibu, anak, bahkan diri kami sendiri. Tapi, ya Rasulullah... ketika kami berkaca, kami hanya melihat diri yang kerdil.
Kami malu, Ya Rasulullah...
Malu dengan dosa-dosa yang terus kami ulangi karena begitu lemahnya iman di dada kami. Kami adalah hamba yang kerap kali kalah, yang membiarkan diri tergelincir, lagi dan lagi.
Pertanyaan terbesar yang menghantui batin kami bukanlah "seberapa besar kami merindukan-Mu," melainkan... apakah Engkau merindukan kami?
Apalah artinya diri yang hina ini? Kami adalah umat yang hidup jauh setelah masa-Mu, yang sering kali mengaku cinta namun langkah kaki kerap menjauh dari jejak sunnah-Mu.
Namun, di tengah rasa malu yang menghimpit ini, kami teringat akan janji Rabb-Mu dan sabda-Mu.
Bukankah Allah Yang Maha Luas Ampunan-Nya telah berjanji untuk mengampuni hamba-hamba-Nya yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri?
Dan bukankah Engkau sendiri pernah bersabda, bahwa syafaat-Mu, pertolongan-Mu itu, justru Engkau simpan untuk umat-Mu yang memikul dosa-dosa besar?
Maka, Ya Rasulullah...
Di Jumat yang mulia ini, izinkan kami menggantungkan harap dengan tangan yang gemetar.
Semoga di antara jutaan shalawat yang membumbung ke langit hari ini, terselip nama kami yang Engkau kenali.
Semoga diri yang penuh dosa ini, masih Engkau akui sebagai bagian dari umat yang Engkau rindukan.
Semoga kelak, di tengah padang mahsyar yang terik, Engkau menoleh mencari kami, bukan berpaling karena kecewa melihat kami.
Kami rindu, ya Habiballah. Rindu yang berbalut harap dan cemas. Semoga shalawat kepada-Mu dan keluarga-Mu ini menjadi benang halus yang menautkan hati kami yang kotor dengan hati-Mu yang suci.