Aku berpasrah atas nama cintaku kepada-Mu, ya Rabb, ya ’Azhim.
Muhammad Ali Ridho
Seperti anak kecil yang berjalan tenang sambil digandeng tangan ayahnya, meski tak tahu ke mana langkah itu akan berakhir. Ia tak menuntut peta. Ia cukup dengan tangan yang menggenggamnya. Begitulah aku ingin melangkah bersama takdir-Mu. Bukan karena aku telah mampu memahami segalanya, tetapi karena aku telah memilih untuk percaya kepada-Mu.
Dan jika dunia mengecewakanku, izinkan aku tetap ingat bahwa Engkau selalu sanggup menggagalkan kecewaku terhadap dunia.
Saat dunia menutup pintu, Engkau membuka makna.
Saat manusia melukai, Engkau mengajarkan teduh.
Saat harapan patah, Engkau menjaga hatiku agar tidak ikut hancur bersamanya.
Maka izinkan si PENDOSA ini pelan-pelan belajar, bahwa yang menyelamatkanku bukan dunia yang berubah menjadi lebih baik, melainkan Engkau yang tidak pernah berubah.
Muhammad Ali Ridho
Seperti anak kecil yang berjalan tenang sambil digandeng tangan ayahnya, meski tak tahu ke mana langkah itu akan berakhir. Ia tak menuntut peta. Ia cukup dengan tangan yang menggenggamnya. Begitulah aku ingin melangkah bersama takdir-Mu. Bukan karena aku telah mampu memahami segalanya, tetapi karena aku telah memilih untuk percaya kepada-Mu.
Dan jika dunia mengecewakanku, izinkan aku tetap ingat bahwa Engkau selalu sanggup menggagalkan kecewaku terhadap dunia.
Saat dunia menutup pintu, Engkau membuka makna.
Saat manusia melukai, Engkau mengajarkan teduh.
Saat harapan patah, Engkau menjaga hatiku agar tidak ikut hancur bersamanya.
Maka izinkan si PENDOSA ini pelan-pelan belajar, bahwa yang menyelamatkanku bukan dunia yang berubah menjadi lebih baik, melainkan Engkau yang tidak pernah berubah.