Renungan tentang Pulang, Tumbuh, dan Mengabdi
Dr. Muhammad Ali Ridho Assegaf
Prolog: Koper yang Tak Pernah Benar-Benar Kosong
Setiap kali musim libur tiba, halaman asrama berubah menjadi pelabuhan kecil. Koper diseret, kardus diikat tali rafia, dan wajah-wajah yang biasanya masih setengah terpejam saat azan subuh mendadak cerah seperti pagi Idulfitri. Satu kata terdengar di mana-mana: pulang.
Saya selalu tertegun memandangi pemandangan itu. Seorang anak yang enam bulan lalu datang dengan tangis yang ditahan-tahan, kini pulang membawa sesuatu yang tidak tercatat di rapor. Ia membawa cara baru melipat sajadah, cara baru meminta maaf kepada teman, cara baru bersabar menunggu giliran kamar mandi. Kopernya mungkin penuh pakaian kotor, tetapi jiwanya membawa muatan yang jauh lebih berharga.
Dari pemandangan sederhana itu lahir sebuah pertanyaan yang sebenarnya filosofis. Ke manakah seorang santri pulang? Apakah rumah hanyalah bangunan tempat ia dilahirkan, ataukah setiap ruang yang menempa jiwanya juga layak disebut rumah?
Esai ini menawarkan satu cara pandang. Pendidikan seorang santri berlangsung dalam tiga rumah: keluarga, sekolah dan asrama, serta masyarakat. Ketiganya tidak berdiri sebagai pulau-pulau yang terpisah. Mereka adalah stasiun-stasiun dalam satu rel perjalanan yang sama.
Dalam kerangka itu, kata âpulangâ perlu kita baca ulang dengan lebih jernih.
Apa Sebenarnya âRumahâ Itu?
Al-Qurâan menyebut rumah dengan sebuah kata yang indah. Allah menjadikan bagi manusia rumah-rumah mereka sebagai sakan, tempat tinggal (QS. An-Nahl [16]: 80). Kata sakan seakar dengan sakÄ«nah, ketenangan yang turun ke dalam dada. Secara bahasa saja, Al-Qurâan sudah memberi isyarat: rumah sejati adalah ruang tempat jiwa menemukan ketenangannya, jauh melampaui urusan atap dan dinding.
Filsuf Prancis Gaston Bachelard, dalam The Poetics of Space, melihat rumah sebagai ruang pertama yang memberi manusia keberanian untuk bermimpi. Di rumah, seseorang merasa cukup terlindungi untuk membayangkan dirinya menjadi lebih dari hari ini.1
Jika rumah dipahami sebagai ruang yang menenangkan sekaligus membentuk, seorang santri memang memiliki lebih dari satu rumah. Setiap rumah menitipkan pelajaran yang berbeda, dan setiap rumah juga menagih tanggung jawab yang berbeda.
Rumah Pertama: Keluarga, Tempat Jiwa Belajar Merasa Aman
Jauh sebelum mengenal guru, papan tulis, atau kitab kuning, seorang anak lebih dahulu âmembacaâ wajah ibunya. Di sanalah kurikulum pertama kehidupan berlangsung, tanpa silabus dan tanpa jam pelajaran.
Imam al-Ghazali dalam Ihyaâ âUlum al-Din menggambarkan anak sebagai amanah di tangan orang tuanya. Hatinya yang bersih ibarat permata berharga yang polos, siap menerima ukiran apa pun yang ditorehkan kepadanya.2 Rasulullah saw. menegaskan hal serupa: setiap anak lahir di atas fitrah, lalu orang tuanyalah yang mewarnai arah pertumbuhannya.3
Neurosains modern ternyata sampai pada kesimpulan yang bersahabat dengan kearifan klasik ini. Thomas Lewis, Fari Amini, dan Richard Lannon dalam A General Theory of Love menjelaskan konsep limbic resonance, yaitu kemampuan sistem limbik manusia untuk menyelaraskan diri dengan keadaan emosional orang terdekatnya.4 Sistem saraf seorang anak belum mampu menenangkan dirinya sendiri. Ia meminjam ketenangan dari detak jantung dan nada suara orang tuanya. Seorang anak belajar tenang karena pernah ditenangkan. Ia belajar menghormati karena pernah dihormati.
John Bowlby, bapak teori kelekatan, menyebut peran keluarga yang sehat sebagai secure base, pangkalan yang aman.5 Anak yang memiliki pangkalan aman akan lebih berani menjelajah dunia, karena ia tahu ada tempat untuk kembali.
Di sinilah letak pelajaran penting bagi keluarga santri. Mengirim anak ke pesantren adalah menitipkan, tidak sama dengan menyerahkan. Perintah Allah untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka (QS. At-Tahrim [66]: 6) tidak gugur ketika anak berpindah alamat. Rumah pertama tetap menjadi pangkalan aman yang menentukan seberapa berani seorang santri menghadapi gelombang di rumah keduanya.
Rumah Kedua: Sekolah dan Asrama, Tempat Diri Ditempa
Hari pertama di asrama sering kali terasa seperti diceburkan ke kolam yang dingin. Teman sekamar tidak bisa dipilih. Jadwal tidak bisa ditawar. Makanan tidak selalu sesuai selera. Keinginan pribadi tiba-tiba harus antre di belakang kesepakatan bersama.
Justru di situ letak keistimewaannya.
Ibn Khaldun dalam al-Muqaddimah merumuskan sebuah kalimat yang terkenal: al-insÄnu madaniyyun bi al-áčabâi, manusia pada tabiatnya adalah makhluk sosial.6 Tak seorang pun mampu memenuhi seluruh kebutuhannya sendirian. Kehidupan bersama adalah bagian dari kodrat kemanusiaan kita. Asrama, dalam kacamata Ibn Khaldun, adalah miniatur peradaban. Ia menjadi laboratorium sosial tempat santri berlatih hidup bersama sebelum terjun ke masyarakat yang jauh lebih luas dan jauh lebih rumit.
Neurosains perkembangan memberi lapisan makna yang lain. B. J. Casey dan rekanrekannya menunjukkan bahwa pada masa remaja, sistem emosi di otak berkembang lebih cepat daripada korteks prefrontal, wilayah otak yang bertugas menimbang, menunda keinginan, dan mengendalikan dorongan.7 Remaja merasakan segala sesuatu dengan sangat kuat, sementara âremâ-nya masih dalam tahap pemasangan. Kehidupan asrama, dengan segala gesekan kecilnya, menjadi ruang latihan yang intens bagi fungsi-fungsi eksekutif itu. Setiap kali seorang santri menahan amarah kepada teman sekamarnya, setiap kali ia bangun malam meski kantuk menggoda, ia sedang memahat sirkuit kendali diri di otaknya sendiri.
Tradisi pesantren sudah lama memahami hal ini dengan bahasanya sendiri. Burhan alDin al-Zarnuji dalam Ta âlim al-Mutaâallim mengingatkan bahwa ilmu tidak akan diraih tanpa adab: memuliakan guru, memilih teman yang baik, dan bersabar dalam proses belajar.8 Bagi al-Zarnuji, pengetahuan dan pembentukan akhlak berjalan dalam satu napas. Guru mengajarkan ilmu, sementara teman sekamar, tanpa sadar, mengajarkan kesabaran.
Murtadha Mutahhari pernah menjelaskan bahwa fitrah manusia adalah kecenderungan luhur yang dibawa sejak lahir, tetapi ia membutuhkan lingkungan yang merawatnya agar tumbuh.9 Fitrah itu seperti benih. Rumah pertama menanamnya, rumah kedua menyiram dan memangkasnya, kadang dengan cara yang terasa tidak nyaman.
Dari sudut pandang ini, liburan adalah ujian kecil yang sangat jujur. Di rumah tidak ada bel, tidak ada wali asrama yang mengetuk pintu kamar saat subuh. Apa yang tetap dilakukan seorang santri ketika tak seorang pun mengawasinya, itulah ukuran sejauh mana rumah kedua telah berhasil meresap ke dalam dirinya. Santri yang pulang ke keluarganya sebenarnya sedang membawa rumah keduanya ikut serta.
Rumah Ketiga: Masyarakat, Tempat Ilmu Menjadi Pengabdian
Suatu hari, setiap santri akan melepas seragamnya. Ia melangkah ke ruang kehidupan yang tidak lagi memiliki jadwal piket, tidak lagi memiliki pembina yang mengingatkan.
Masyarakat adalah rumah ketiga, dan di sanalah seluruh proses pendidikan menghadapi ujiannya yang paling nyata.
Al-Qurâan menjelaskan hakikat kehadiran manusia di bumi:
âIngatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, âSesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.ââ (QS. Al-Baqarah [2]: 30)
Ibn Arabi dalam Fushush al-Hikam membaca ayat ini dengan kedalaman yang memukau. Pada bab tentang Nabi Adam, ia menggambarkan manusia sebagai cermin yang memantulkan nama-nama Tuhan di alam semesta.10 Manusia layak menjadi khalifah karena ia mampu menghimpun dan menghadirkan sifat-sifat Ilahi, seperti rahmat, keadilan, dan kasih sayang, di tengah kehidupan. Inilah jantung humanisme teosentris: Tuhan tetap menjadi pusat, dan justru karena itu manusia dimuliakan sebagai pembawa cahaya-Nya ke tengah sesama.
Dalam cahaya pemahaman ini, ukuran keberhasilan pendidikan bergeser. Nilai rapor, jumlah juz yang dihafal, dan deretan piala tetap berharga, tetapi semua itu baru merupakan bekal. Pertanyaan yang lebih mendasar menunggu di rumah ketiga: sudahkah pendidikan itu melahirkan manusia yang membawa manfaat? Rasulullah saw. bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.11
Psikologi modern menyediakan peta yang membantu kita memahami perjalanan ini. Edward Deci dan Richard Ryan, melalui Self-Determination Theory, menjelaskan proses internalisasi: perilaku yang awalnya digerakkan oleh aturan dari luar perlahan dapat menjadi bagian dari identitas diri, hingga seseorang melakukannya karena nilai itu telah menjadi miliknya.12
Perjalanan seorang santri adalah perjalanan internalisasi semacam itu. Ia dahulu disiplin karena bel berbunyi, dan kelak diharapkan disiplin karena kesadaran. Ia dahulu menjaga salat karena seluruh lingkungan pesantren bergerak menuju masjid, dan kelak diharapkan tetap bersujud ketika lingkungan di sekitarnya tidak lagi mengingatkan. Ia dahulu belajar menolong teman sekamar yang sakit, dan kelak diharapkan hadir bagi tetangga dan masyarakat yang membutuhkannya.
Rumah ketiga memperlihatkan dengan telanjang apakah nilai-nilai itu telah menjadi napas, atau sekadar kebiasaan yang ikut tertinggal di gerbang pesantren.
Relasi Tiga Rumah: Satu Perjalanan, Bukan Tiga Kehidupan
Psikolog perkembangan Urie Bronfenbrenner memperkenalkan teori ekologi perkembangan manusia. Ia menyebut keterhubungan antara lingkungan-lingkungan terdekat seorang anak, seperti keluarga dan sekolah, sebagai mesosistem.13 Temuannya sederhana namun mendalam: perkembangan anak menjadi paling kokoh ketika ruang-ruang kehidupannya saling terhubung dan saling menguatkan.
Kita semua pernah melihat apa yang terjadi ketika rumah-rumah itu berbicara dengan bahasa yang bertentangan. Di asrama, santri belajar membatasi gawai dan menjaga waktu salat. Di rumah, semua batas itu luruh dalam sehari. Anak pun terbelah, dan ia belajar satu pelajaran yang keliru: nilai hanya berlaku di tempat tertentu. Keselarasan antara rumah pertama dan rumah kedua, melalui komunikasi yang jujur antara orang tua dan sekolah, adalah prasyarat agar pendidikan tidak menjadi topeng yang dipakai dan dilepas bergantian.
Ketika santri kembali ke keluarganya, ia membawa pelajaran dari asrama. Ketika ia kembali ke asrama, ia membawa kehangatan dari keluarga. Ketika kelak ia memasuki masyarakat, keduanya ikut serta dalam setiap langkahnya. Pada titik ini kita memahami mengapa seorang santri sesungguhnya tidak pernah benar-benar âpulangâ. Ia selalu sedang berpindah dari satu rumah menuju rumah berikutnya, dengan membawa dirinya yang terus bertumbuh.
Rumah Keempat yang Tak Pernah Disebut
Ada satu rumah lagi yang diam-diam menjadi muara dari ketiganya.
Jalaluddin Rumi membuka Matsnawi dengan kisah seruling bambu yang merintih karena dipotong dari rumpunnya. Seluruh nyanyiannya adalah kerinduan untuk kembali ke asal.14 Bagi Rumi, setiap jiwa manusia adalah seruling itu. Kita semua sedang dalam perjalanan pulang menuju Asal yang sejati.
Rasulullah saw. berpesan agar kita hidup di dunia seperti orang asing atau seorang musafir yang sedang menyeberang jalan.15 Setiap orang beriman mengulang kesadaran yang sama saat mendengar kabar duka: innÄ lillÄhi wa innÄ ilaihi rÄ jiâĆ«n, sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali (QS. Al-Baqarah [2]: 156).
Keluarga, asrama, dan masyarakat pada akhirnya adalah persinggahan. Setiap rumah adalah tempat kita berlatih menjadi manusia yang layak kembali kepada Rumah yang abadi.
Pendidikan seorang santri, dalam makna terdalamnya, adalah pendidikan untuk pulang dengan benar.
Epilog: Pertanyaan yang Lebih Penting
Pada akhirnya, pertanyaan tentang pendidikan santri tidak berhenti pada âKe mana ia akan pulang?â
Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar dan jauh lebih menantang:
Manusia seperti apa yang hadir ketika ia berada di setiap rumahnya?
Santri yang benar-benar tumbuh tidak hanya merasa memiliki rumah. Ia menjadi rumah.
Kehadirannya menghadirkan sakīnah bagi keluarganya, keteladanan bagi teman-temannya, dan manfaat bagi masyarakatnya. Di mana pun ia singgah, orang-orang di sekitarnya merasa sedikit lebih tenang, sedikit lebih aman, sedikit lebih dekat kepada kebaikan. Barangkali itulah kado terindah yang bisa dipersembahkan pendidikan kepada semesta.
```