Logo TIBS
TARUNA INSANI Boarding School
Berita Taruna Insani

Keadilan Gender dalam Perspektif Al-Qur’an: Membaca Realitas dengan Kacamata Wahyu

| Oleh: Tim Media Center Taruna Insani
Keadilan Gender dalam Perspektif Al-Qur’an: Membaca Realitas dengan Kacamata Wahyu
Taruna Insani Boarding School, Bogor - 7 September 2026

Keadilan dalam Islam bukan sekadar konsep sosial. Ia merupakan nilai yang memiliki akar kuat dalam ajaran Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 90, “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan...” Ayat ini menempatkan keadilan sebagai sebuah perintah, sekaligus mengingatkan bahwa keadilan dalam Islam tidak berdiri sendiri, tetapi berjalan bersama ihsan dan kebaikan.


Dari sinilah sebuah pertanyaan menarik kemudian muncul: ketika berbicara tentang laki-laki dan perempuan, seperti apa sebenarnya bentuk keadilan yang dimaksud? Apakah adil selalu berarti memperlakukan keduanya dengan cara yang sama?


Pertanyaan tersebut menjadi titik berangkat Quranic Project Lesson (QPL) Taruna Insani Boarding School pada tahun ajaran 2026–2027. Sebagai bagian dari Quranic Holistic Curriculum (QHC), QPL tahun ini mengangkat tema Keadilan Gender dalam Perspektif Islam—sebuah tema yang tidak sederhana, tetapi justru dekat dengan kehidupan murid sehari-hari.


Gagasan mengenai tema ini merupakan bagian dari pemikiran Dr. Muhammad Ali Ridho Assegaf, Direktur Pendidikan Taruna Insani Boarding School, yang juga menjadi penggagas Quranic Holistic Curriculum. Melalui kerangka yang beliau rumuskan, persoalan keadilan gender tidak diarahkan menjadi sekadar pembahasan tentang kesamaan atau perbedaan laki-laki dan perempuan, tetapi menjadi ruang bagi murid untuk belajar membaca realitas melalui perspektif Al-Qur’an.


Sebab, persoalan gender tidak selalu hadir dalam bentuk perdebatan besar. Ia dapat muncul dalam hal-hal yang sangat dekat: bagaimana pembagian tugas dilakukan, siapa yang dianggap pantas memimpin, bagaimana seseorang diberi kesempatan untuk berbicara, candaan yang dianggap biasa, hingga berbagai anggapan tentang apa yang “seharusnya” dilakukan oleh laki-laki atau perempuan. Bahkan di lingkungan sekolah dan asrama, relasi antara laki-laki dan perempuan dapat dibentuk oleh pertemuan antara ajaran agama, pemahaman manusia, dan kebiasaan budaya yang terkadang sulit dibedakan.


Karena itu, QPL tidak mengajak murid sekadar mencari jawaban tentang apakah laki-laki dan perempuan harus diperlakukan sama atau berbeda. Mereka diajak memasuki pertanyaan yang lebih mendasar: di mana kesamaan harus ditegakkan, di mana perbedaan dapat diakui, apa yang menjadi dasar sebuah perbedaan, dan bagaimana memastikan bahwa perbedaan tersebut tidak berubah menjadi ketidakadilan atau perendahan martabat manusia?


Cara pandang seperti inilah yang menjadi salah satu ciri penting QHC. Al-Qur’an tidak ditempatkan hanya sebagai sumber materi yang kemudian ditempelkan pada sebuah pembelajaran, tetapi sebagai sumber worldview—sebagai dasar untuk membentuk cara murid memahami manusia, realitas, nilai, dan tujuan hidup. Karena itu, murid tidak hanya diajak bertanya “apa pendapat saya?”, tetapi perlahan diarahkan kepada pertanyaan yang lebih penting: “Bagaimana Al-Qur’an mengajarkan saya untuk melihat persoalan ini?”


Pada titik ini, pembahasan tentang keadilan gender juga kembali kepada sesuatu yang sangat mendasar: martabat manusia. Laki-laki dan perempuan memiliki kesamaan fundamental dalam martabat kemanusiaan, kapasitas moral, kesempatan untuk bertumbuh, dan kesempatan untuk berkontribusi dalam kebaikan. Pada saat yang sama, Islam juga mengakui adanya sejumlah perbedaan yang memiliki dasar tertentu. Maka, keadilan tidak serta-merta berarti keseragaman, tetapi bagaimana manusia, peran, kebutuhan, dan tanggung jawab ditempatkan secara tepat berdasarkan dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.


Di sinilah QPL menjadi menarik. Tema yang secara sekilas tampak seperti pembahasan tentang laki-laki dan perempuan ternyata membawa murid kepada proses yang jauh lebih luas: belajar membaca realitas, memeriksa asumsi, membedakan stereotip dengan perbedaan yang memiliki dasar, berdialog dengan wahyu, dan mempertimbangkan bagaimana sebuah nilai diterjemahkan dalam kehidupan.


Proses tersebut pun dirancang sesuai dengan perkembangan murid. Di jenjang SMP, Gerak Adil menekankan bagaimana murid belajar berlaku adil dalam relasi dan menjaga martabat orang lain. Sementara di jenjang SMA, Suara Amanah membawa pembelajaran lebih jauh kepada persoalan peran, kemampuan, kepemimpinan, tanggung jawab, dan tindakan nyata. Keduanya merupakan satu perjalanan yang saling terhubung: dari kesadaran moral menuju kemampuan untuk bertindak secara moral.


Namun, seperti apa perjalanan itu akan berlangsung?

Apa yang akan murid temukan ketika mereka mulai mengamati realitas di sekitar mereka? Bagaimana mereka akan mempertemukan apa yang mereka lihat dengan apa yang mereka baca dalam Al-Qur’an? Pertanyaan apa yang akan muncul ketika mereka mulai memeriksa kembali berbagai anggapan yang selama ini dianggap biasa? Dan pada akhirnya, tindakan seperti apa yang akan lahir dari proses tersebut?

Jawabannya belum selesai, karena perjalanan QPL ini memang baru saja dimulai.


Di tahun ajaran 2026–2027 ini, Taruna Insani kembali menghadirkan QPL sebagai salah satu bagian dari ikhtiar membangun pendidikan yang tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi berusaha membentuk cara pandang dan sikap hidup. Untuk tema keadilan gender ini, murid akan menjalani proses belajar yang membawa mereka dari persoalan yang dekat dengan kehidupan menuju pemahaman yang lebih mendalam melalui perspektif Qur’ani.


Kelak, perjalanan itu akan memperlihatkan bagaimana gagasan tentang martabat, keadilan, ahliyah, amanah, dan peran tidak hanya dibicarakan, tetapi dicoba untuk dihidupkan dalam pengalaman belajar murid. Sebab dalam kerangka QPL yang dirumuskan dalam Quranic Holistic Curriculum, produk bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting adalah apa yang berubah dalam cara murid melihat, menimbang, bersikap, dan bertindak.

Dan mungkin, pada akhirnya, pertanyaan terbesar dari proyek ini bukan lagi sekadar “apa itu keadilan gender?”


Melainkan:

“Ketika Al-Qur’an menjadi kacamata kita dalam membaca realitas, apa yang kemudian berubah dalam cara kita memperlakukan sesama?”

Perjalanan untuk menemukan jawabannya baru saja dimulai.




Artikel ini disusun berdasarkan gagasan dan kerangka konseptual Dr. Muhammad Ali Ridho Assegaf, Direktur Pendidikan Taruna Insani Boarding School, mengenai Keadilan Gender dalam Perspektif Quranic Holistic Curriculum dan Quranic Project Lesson.

Bagikan: