Tajurhalang, 21 September 2026 — Taruna Insani Boarding School kembali menghadirkan ruang belajar yang mempertemukan nilai-nilai Al-Qur’an dengan realitas kehidupan melalui kegiatan Seminar Ekonomi bertema “Laki-Laki dan Perempuan dalam Ekonomi: Membangun Keadilan, Bukan Persaingan”. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Ikhwan Taruna Insani ini menjadi bagian dari rangkaian Qur’anic Project Learning (QPL) dengan tema besar Keadilan Gender.
Seminar menghadirkan Bapak H. M. Muflih Humam, Lc., CEO Al Jazira dan Drajih Naturecamp, sebagai narasumber. Para santri dan dewan guru mengikuti kegiatan dengan suasana yang hangat dan interaktif. Sejak awal, seminar tidak dikemas sebagai penyampaian materi satu arah. Narasumber justru mengajak peserta untuk berdiskusi, merespons pertanyaan, dan bersama-sama menggali persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tanpa mengandalkan presentasi PowerPoint, pembahasan berkembang melalui percakapan dua arah. Santri diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat dan mengajukan pertanyaan. Lima santri berani menyampaikan pandangannya secara langsung, sementara Afif turut mengajukan pertanyaan yang kemudian membuka pembahasan lebih dalam. Bunda Lusi juga turut memberikan respons dalam dialog tersebut. Interaksi ini membuat suasana seminar terasa lebih hidup karena santri tidak hanya menerima informasi, tetapi ikut terlibat dalam proses berpikir.
Ketika Persoalan Ekonomi Berawal dari Keluarga
Salah satu pembahasan yang menarik muncul ketika konsep keadilan ekonomi dikaitkan dengan kehidupan berkeluarga. Sebuah pertanyaan kemudian mengemuka:
“Bagaimana jika penghasilan istri lebih besar daripada suami?”
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk membicarakan bagaimana keadilan ekonomi dipahami dalam keluarga, khususnya dalam melihat peran, hak, dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan.
Pembahasan tidak berhenti pada persoalan siapa yang memiliki penghasilan lebih besar. Santri diajak melihat bahwa keadilan tidak selalu berarti segala sesuatu harus sama. Dalam kehidupan berkeluarga, terdapat peran dan tanggung jawab yang perlu dipahami secara proporsional. Perbedaan kemampuan, kontribusi, maupun kondisi ekonomi tidak harus ditempatkan sebagai alasan untuk saling bersaing, tetapi dapat menjadi ruang untuk saling melengkapi.
Belajar dari Pengalaman Mengelola Keluarga
Pembahasan semakin dekat dengan kehidupan ketika narasumber turut menceritakan pengalamannya dalam mengatur ekonomi keluarga sebagai seorang kepala keluarga. Dari pengalaman tersebut, santri mendapatkan gambaran bahwa ekonomi keluarga bukan sekadar persoalan memperoleh penghasilan, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana seseorang mengatur kebutuhan, menentukan prioritas, mengambil keputusan, dan menjalankan tanggung jawab.
Dari LIPIA, Makkah, hingga Dunia Usaha
Menjelang akhir seminar, narasumber juga membagikan kisah perjalanan hidupnya yang membawa suasana diskusi menjadi semakin personal. Ia menceritakan perjalanan sejak menempuh pendidikan di LIPIA, kemudian melanjutkan perjalanan ke Makkah, hingga akhirnya terjun ke dunia usaha. Kisah tersebut memberikan perspektif lain kepada para santri tentang bagaimana pendidikan dan perjalanan hidup dapat membentuk seseorang hingga kemudian mengambil peran di dunia profesional dan kewirausahaan.
Cerita tentang perjalanan tersebut menjadi bagian yang menarik karena santri tidak hanya melihat sosok narasumber sebagai seorang pengusaha, tetapi juga mengenal proses yang telah dilaluinya. Ada perjalanan pendidikan, pengalaman, perubahan arah, serta berbagai keputusan yang akhirnya membawanya pada dunia usaha.
Membangun Keadilan, Bukan Persaingan
Melalui seminar ini, pembahasan tentang ekonomi pun menjadi lebih luas. Relasi antara laki-laki dan perempuan tidak semata-mata dilihat dari pertanyaan tentang siapa yang memiliki penghasilan lebih tinggi atau siapa yang memiliki peran lebih besar. Lebih jauh, santri diajak untuk memahami peran, tanggung jawab, kontribusi, dan bagaimana semuanya dapat berjalan secara adil.
Gagasan tersebut sejalan dengan semangat tema yang diangkat: membangun keadilan, bukan persaingan. Laki-laki dan perempuan dapat memiliki kemampuan dan kontribusi yang berbeda, tetapi perbedaan tersebut tidak harus menjadi alasan untuk saling berhadapan. Dalam kehidupan, keduanya dapat mengambil peran dan bekerja sama sesuai tanggung jawab masing-masing.
Ketika QPL Membawa Santri Lebih Dekat pada Kehidupan
Bagi Taruna Insani, kegiatan seperti ini menjadi bagian dari proses pembelajaran yang berusaha membawa santri keluar dari sekadar memahami konsep menuju kemampuan untuk menghubungkannya dengan realitas. Melalui QPL, nilai-nilai Al-Qur’an tidak hanya dibicarakan sebagai teori, tetapi dipertemukan dengan persoalan yang mungkin mereka temui dalam kehidupan.
Pada akhirnya, seminar ini bukan hanya tentang ekonomi. Ada keberanian untuk bertanya, kemampuan untuk mendengarkan, kesediaan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, serta kesempatan untuk belajar dari pengalaman orang lain. Dari sebuah pertanyaan sederhana tentang penghasilan suami dan istri, santri diajak memahami makna keadilan dengan lebih dekat.
Sebab dalam proses pendidikan, belajar tidak selalu dimulai dari sebuah jawaban. Terkadang, belajar justru dimulai dari keberanian untuk bertanya.